Langsung ke konten utama

PARA PAHLAWAN

A. Pahlawan Zaman Dahulu Dahulu, seseorang yang ikut perang melawan penjajah disebut pahlawan. Seseorang disebut pahlawan jika sudah ikut ambil bagian dalam perang. Ada pahlawan yang sangat terkenal pada jaman penjajahan. Mereka dihormati, dihargai, dipandang. Diantaranya adalah Ir. Soekarno dan Moh. Hatta sebagai proklamator bangsa Indonesia. Ada Pangeran Diponegoro yang memimpin perang di Jawa Tengah dan Kapten Pattimura juga memimpipn rakyat Maluku untuk melawan penjajah. Masih banyak lagi pahlawan-pahlawan besar yang namanya sangat populer hingga dijadikan nama jalan, nama gedung, nama kelompok, dan lain sebagainya. Mereka yang memimpin dan turun langsung dalam menghadapi musuh. Jasa mereka sangat berguna bagi masa depan bangsa. Tetapi perlu diketahui, pahlawan ada juga pahlawan tanpa nama. Namanya tidak kenal oleh bangsa. Padahal mereka juga ikut perang dan memperjuangkan bangsa. Nama lain dari mereka adalah veteran. Pahlawan tak dikenal ini memang tidak sepopuler para pahlawan yang dikenal. Tapi jasa mereka sangat berguna dan sangat dibutuhkan. Para pahlawan veteran ini tak mengapa kalau mereka tak dianggap. Mereka hanya ingin Indonesia merdeka dan anak cucu mereka terhindar dari penjajahan. Hasil pengorbanan mereka nyata kita rasakan sekarang. Banyak dari mereka dilantarkan dan tak dihargai. Setelah Indonesia merdeka apakah mereka disanjung dan diberi penghargaan? Keberadaan mereka hanya dikenang waktu proklamasi saja. Selebihnya tidak. Mereka tidak berharap apa-apa, melainkan hanya ingin hidup tenang dan tentram di masa tuanya. Semangat para pahlawan veteran ini masih ada di hari tua mereka. Dengan memakai seragam perjuangan mereka waktu muda, mereka ingin mengingatkan generasi muda tentang semangat 45 dan kecintaan pada tanah air mereka yang patut diacungi jempol. Inilah pentingnya sosok pahlawan perjuangan yang membuat bangsa Indonesia menjadi tenteram. Berkat jasa mereka tak ada lagi penjajahan. Generasi muda dapat hidup dengan nyaman tanpa harus berperang. Jasa mereka dalam mengusir pejajah perlu dihormati, dihargai, dan dijadikan semangat untuk generasi muda dalam membangun bangsa. B. Pahlawan Masa Kini Banyak orang saat mendengar sosok pahlawan mereka mengira adalah pahlawan yang berperang pada zaman penjajahan. Sosok pahlawan terasa hanya melekat pada seseorang yang mengikuti perang melawan penjajah. Masih adakah pahlawan zaman sekarang? Begitulah pertanyaan yang sering muncul saat mengingat tentang para pahlawan yang mau berkorban bagi Indonesia. Menjadi pahlawan itu perlu berkorban. Tetapi di zaman serba canggih ini rasanya sulit sekali untuk berkorban. Malah banyak orang yang rela mengorbankan orang lain bagi kepentingannya sendiri. Bangsa Indonesia masih butuh banyak sosok pahlawan. Menurut saya, pahlawan itu tidak harus berperang seperti pahlawan-pahlawan yang berperang melawan penjajah dahulu. Begitu banyak orang yang dapat menjadi pahlawan Indonesia bagi zaman sekarang ini. Salah satu contoh yaitu Een Sukaesih. Beliau adalah sosok wanita yang tangguh. Beliau adalah guru dari Sumedang yang sudah sekitar tiga puluh tahun mengajar. Selama 26 tahun, Ibu Een menderita lumpuh. Hal ini tak mengurungkan niat beliau untuk berhenti mengajar. Kelumpuhan yang dialami Een Sukaesih berawal sejak Ibu Een kelas tiga SPG (Sekolah Pendidikan Guru waktu itu). Dokter menyatakan Ibu Een menderita Rheumathoid Artitis atau radang sendi. Setelah lulus, Ibu Een diangkat menjadi guru SMA. Sekitar satu bulan ibu Een menjadi guru SMA, beliau merasakan sakit dan memutuskan untuk pulang ke Sumedang. Setelah itu, Ibu Een menjadi lumpuh total. Walaupun lumpuh, wanita tangguh ini tetap aktif mengajar meski harus dilakukan di atas tempat tidur. Banyak anak-anak yang datang dirumahnya untuk belajar dengan Ibu Een tanpa memungut biaya. Beliau mengabdikan diri untuk mencerdaskan anak bangsa. “Buat mahasiswa saya akan berpesan jangan berorientasi kepada materi dan bisnis. Tapi pengabdian dengan tulus untuk dunia pendidikan demi generasi nanti, bangsa dan negeri ini.” Itu adalah pesan Ibu Een untuk para mahasiswa. Kisah Ibu Een Sukaesih dapat menjadi motivasi untuk para penerus bangsa agar dapat menjadikan bangsa Indonesia lebih maju dari sebelumnya. Pahlawan masa kini dapat berupa seseorang yang peduli terhadap sesama dan memberikan pengabdian terhadap kemajuan bangsa. Contohnya seperti relawan bencana alam, relawan pendidikan anak jalanan di kota-kota besar, dokter atau suster yang rela hidup di daerah terpencil untuk membantu orang-orang disana, guru yang rela mengajar anak-anak di daerah-daerah terpencil, dsb. Orang-orang seperti ini mempunyai jiwa yang peduli dan mereka tidak meminta imbalan yang besar. Ternyata ada juga pahlawan masa kini yang dipandang rendah dan tidak dianggap. Setuju atau tidak, tukang sapu jalanan dan tukang sampah adalah salah satu pahlawan masa kini. Mereka membersihkan jalan dari sampah-sampah organik maupun nonorganik. Bukankah bangsa Indonesia menjadi bangga jika nantinya disebut sebagai negara yang bersih? Tukang sapu jalanan dan tukang sampah patut untuk dihargai dan jangan mengganggap remeh mereka. TKI (Tenaga Kerja Indonesia) dan TKW (Tenaga Kerja Indonesia) juga termasuk pahlawan bangsa. Mereka memperjuangkan devisa negara. Dalam ekonomi dikatakan TKI dan TKW adalah pahlawan devisa. Petani dan buruh juga pahlawan. Ir. Soekarno mengakui pernyataan itu. Buktinya Ir. Soekarno meresmikan Patung Pahlawan yang menggambarkan sepasang petani, laki-laki dan perempuan. Patung tersebut sekarang berada di jalur hijau Prapatan Menteng, Jakarta. Masyarakat lebih mengenal nama Patung Pahlawan tersebut dengan sebutan Patung Pak Tani karena menggambarkan rakyat kecil dan buruh, khususnya petani. Generasi muda harus memiliki jiwa kepahlawanan seperti pahlawan zaman dahulu yang memerdekaan Indonesia. Untuk menjadi pahlawan masa kini pun tidak harus mengorbankan jiwa dan harta, tapi cukup dengan bersikap dan berkata jujur serta mau memiliki jiwa nasionalisme dan patriotisme. Apakah saya bisa menjadi pahlawan? Itu pertanyaan yang harus dipikirkan generasi muda. Pemegang masa depan bangsa adalah kita, para generasi bangsa, para pelajar, para mahasiswa. Ada contoh generasi muda yang cocok sebagai inspirasi untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik. Dia adalah wanita berdarah Batak. Lahir di kota Jakarta, 21 Februari 1972 yang bernama Saur Marlinang Manurung atau dikenal dengan nama Butet Manurung. Wanita cantik ini adalah pahlawan pendidikan yang pernah mengajar di suku-suku pedalaman yang ada di Pulau Sumatra. Dia berharap anak-anak di suku-suku pedalaman dapat memperoleh kecerdasan agar tidak ditipu atau dimanfaatkan oleh pihak luar. Dibutuhkan hati yang bijaksana dan rendah diri dalam diri pahlawan dalam membangun bangsa. Yang diperlukan zaman sekarang adalah bagaimana memberikan iklim atau suasana yang kondusif agar tercipta banyak pahlawan masa kini yang sungguh-sungguh memberikan sikap dan perbuatan yang nyata untuk kepentingan orang banyak sebagai penerus para pahlawan zaman dahulu. Pahlawan menurut saya adalah sebuah profesi yang berguna bagi bangsa dan negara. Tidak harus terkenal atau memiliki nama yang besar. Jika pemikiran itu dapat disetujui maka masyarakat dapat melihat semua pekerjaan baik itu dapat menjadikan sebagai pahlawan dan tidak akan ada orang yang merendahkan pekerjaan-pekerjaan yang saat ini masih dianggap rendah.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salah Langkah

Terakhir aku bercerita tahun 2020 dimana aku menemukan seseorang yang tadinya aku kira luar biasa baik, ternyata luar biasa jahat. Ya. aku tertipu, karena masih terlalu naif. umurku masih 22 tahun dimana aku baru beranjak mengenal dunia luar setelah bertahun-tahun dilarang ini dan itu. Masih dalam tahan pencarian, tapi tidak tahu apa yang sebenarnya dicari. Orang itu bersikap sangat lembut. Soft spoken, kalau kata gen z sekarang. Tidak pernah kasar, selalu terlihat baik, bahkan keluargaku awalnya mengira dia baik dan berbakat. Semua kata yang diucapkan serasa benar tanpa kebohongan dan terlihat cerdas. Saat itu aku percaya saja. Mengikuti apa yang dia katakan dan dia inginkan yang ternyata menjerumuskanku pada hubungan yang sangat tidak sehat. "Kamu mau apa? Aku bakal berusaha memenuhi kebutuhanmu," ucap dia. Ternyata ucapan dia hanya pancingan saja. Aku sudah mulai curiga dari beberapa bulan aku mengenalnya karena banyak perkataannya yang tak sinkron. Tuhan sudah menunjukan ...

Yang dibutuhkan bukan itu

 Aku kembali dengan pikiran sedikit lega. Ada kecewa sedikit. Tapi aku pikir ini yang terbaik. Aku perempuan berusia 27 tahun. Sok-sok an ingin berkembang dengan banyak aktivitas seolah-olah umurku masih 20 tahun. Aku begitu karena merasa telah lepas dari hubungan yang selama ini mengikatku dan merusakku. Jadi seolah-olah aku ingin kembali seperti dulu. Aku mencoba banyak kegiatan diluar pekerjaan pokokku. Ikut daftar radio anak muda, ikut daftar freelance, news anchor, mencoba jadi content creator. Hasilnya? ternyata tidak bisa semaksimal dulu. Apalagi shiftku yang menyita jam tidur malam. Setelah aku jalani, badanku tidak sanggup dan tidak semuda dulu. Alhasil, tidak ada yang maksimal. AKu terlalu lelah untuk training di radio, terlalu capek untuk buat konten karena harus fokus ke pekerjaan utamaku yang 9 jam itu. Mencoba ikhlas mungkin memang bukan duniaku lagi disitu. Akhirnya aku tidak lolos menjadi penyiar anak muda. Gayaku yang lembut dan formal memang tidak bisa kalau disur...

Seklumit Hidup yang Belum Terceritakan

"hhh hidup.." Lama juga tak banyak bersua di blog yang gaje ini. Lama tak menyuarakan hidup di sini. Aku kembali. Seperti beberapa tahun lalu, mau menuliskan sekelumit hidupku. Banyak yang terlewatkan, dan akan ku ceritakan. Tahun 2016, sudah kuceritakan, kan? Aku bertemu dan menjalin hubungan dengan seseorang. Tahun 2018 aku harus berpisah, mematahkan hatiku sendiri. Tahun 2018 ibarat tahun perjuangan juga bagiku. Dari sisi keluarga, ekonomi, cinta, dan banyak hal. Tunggu, sepertinya memang hidupku banyak berjuangnya setelah ku baca-baca kembali cerita hidup lamaku, Hidup itu memang perjuangan ya haha.. Baiklah, dimulai di tahun 2018. Berarti saat ini umurku tepat 20 tahun, terjadi proses pendewasaan. Disitulah juga, orangtuaku terlilit hutang karena ditipu. Tidak punya rumah, semua lenyap, pindah-pindah. Aku pun sering juga kena marah dari banyak orang karena hutang orangtuaku. Diikutin sama orang yang tak dikenal. Harus jaga adik. Harus pura-pura berani dan tegar. Lagipula...