Langsung ke konten utama

Salah Langkah

Terakhir aku bercerita tahun 2020 dimana aku menemukan seseorang yang tadinya aku kira luar biasa baik, ternyata luar biasa jahat.





Ya. aku tertipu, karena masih terlalu naif. umurku masih 22 tahun dimana aku baru beranjak mengenal dunia luar setelah bertahun-tahun dilarang ini dan itu. Masih dalam tahan pencarian, tapi tidak tahu apa yang sebenarnya dicari.

Orang itu bersikap sangat lembut. Soft spoken, kalau kata gen z sekarang. Tidak pernah kasar, selalu terlihat baik, bahkan keluargaku awalnya mengira dia baik dan berbakat. Semua kata yang diucapkan serasa benar tanpa kebohongan dan terlihat cerdas. Saat itu aku percaya saja. Mengikuti apa yang dia katakan dan dia inginkan yang ternyata menjerumuskanku pada hubungan yang sangat tidak sehat.

"Kamu mau apa? Aku bakal berusaha memenuhi kebutuhanmu," ucap dia.

Ternyata ucapan dia hanya pancingan saja. Aku sudah mulai curiga dari beberapa bulan aku mengenalnya karena banyak perkataannya yang tak sinkron. Tuhan sudah menunjukan banyak hal, tapi dia selalu berusaha meyakinkanku.

Aku tahu ternyata dia bermasalah dengan kekasihnya dulu. Aku pikir kekasihnya yang jahat, karena keluarganya pun bilang begitu. Aku jadi terbawa arus dan ikut membenci mantan kekasihnya. Sekali lagi, aku masih naif. Saat itu aku masih mencoba percaya. Padahal aku tahu ternyata dia masih menemui mantan kekasihnya entah untuk apa atau berbohong apa lagi.

Kali ini aku mencoba memahai posisi yang dia ceritakan. Dia menjual cerita-cerita sedih. Mantan kekasihnya yang selingkuh, dia yang ditipu. Tentu aku iba.

Perempuan dikaruniai hati yang begitu besar.

Lanjut, dia mulai bermain dengan uang. Dia sering memaksaku tanpa aku sadari untuk memberinya uang. Dia bilang dalam keadaan yang tidak baik dan butuh uang. Tentu aku sebagai pasangannya berusaha memberi yang terbaik. Dia bilang pinjam namaku untuk pinjaman online dan aku turuti karena janjinya dia akan mengembalikan. Sekali lagi aku begitu naif.

Pernah aku membantu dia menjual sesuatu. Uang sudah di transfer tapi barang tidak segera dia kirim. Otomatis akulah yang harus bertanggung jawab. Merusak pertemananku dan pekerjaanku. Masih saja aku melindungi dia. Memang cinta itu bisa membuat kita bodoh ya.

"Minta tolong! Aku sedang membutuhkan. Kalau tidak, nanti urusanku yang ini semakin panjang dan tidak selesai. Ini kan juga untuk kita berdua," dia memohon sambil memelas.

Seolah olah demi kebaikan berdua.

Aku juga dengan legawa menemani dia dari nol. Benar-benar dari dia tidak ada pekerjaan. kuliahnya tidak selesai, alasannya karena masalah uang. Aku menuruti egonya dia yang memintaku bekerja di tempat dia berada. Aku harus ikut dia. Aku sempat menangis dan tidak mau karena memang nyatanya ekonomiku memburuk. Aku harus pinjam uang sana sini untuk memenuhi hidup. Dengan naifnya aku selalu percaya dia akan mengembalikan semuanya. "Kan yang pakai kita berdua," alasan itu selalu dilontarkan.

Padahal aku merasa tidak pakai sepenuhnya. Toh setiap aku ada uang, selalu dipakai juga. Dia sendiri yang setiap ada uang selalu minta makan ditempat yang sedikit mahal, istilahnya hedon, padahal uang itu bukan miliknya. Aku juga tahu sebenarnya dia banyak dikejar orang masalah hutangnya dia sendiri, yang sekali lagi dia katakan "untuk berdua".

Seberani apa dia? Dia berani menggadaikan laptop dan motorku. Sekali lagi alasannya untuk kita berdua. Nanti dia akan ganti. Tapi sampai sekarang tidak ada gantinya. Laptop tidak sekali dia gadai, sudah berkali-kali. Akhirnya laptop dan motorku tetap orang tuaku yang menebus. Bahkan dia berani menggunakan namaku untuk mendapatkan uang dari orangtuanya atau orangtuaku atau bahkan orang lain yang waktu itu masih percaya. Namaku jadi buruk, namanya tetap baik.

Parahnya tidak masalah uang saja, dia ternyata memang suka cari perhatian ke lawan jenis. Sudah ada aku yang berusaha menemani dimasa susahnya dia, tapi dia masih saja mencari perempuan polos untuk dipacari. Mungkin juga untuk diminta uangnya.

Pernah aku menemukan bukti bahwa dia berhubungan dengan banyak perempuan. Modusnya sama, awalnya menceritakan hal-hal yang tinggi seperti dia yang berprestasi, keluarganya yang kaya, memberi banyak hal romantis. Lalu menjual cerita sedih seperti pernah diselingkuhi, dia sedang tidak baik-baik saja dengan keluarganya, dia harus kerja keras karena ditipu.

Kenyataannya dialah yang menipu.

Berkali kali aku memergoki hal itu dan selalu ingin pisah. Tapi selalu diyakinkan. Berasa sudah tidak berdaya, sudah terkekang. Saking gilanya dia, pernah sampai dia memohon-mohon di pinggir jalan raya. Dan itu tidak sekali tapi berkali-kali. Tentu saja aku malu. Berakhir aku terima lagi janji janji palsunya.

Sampai titik masalah kuliahku. Bahkan dia berani menipu kampus, padahal status kemahasiswaannya sendiri HILANG. Dia menipu kampus dan membawa namaku. Waktu itu aku sedang menunggu jadwal wisuda. Kaget sekali tiba-tiba ditelepon seseorang yang dirugikan karena namanya dipakai, kemudian aku datang ke kampus dan menjelaskan. Aku berasa jadi umpan. Fakultasku sampai tidak mengijinkan aku wisuda kalau dia tidak ke kampus dan minta maaf. Orang tuaku shock dan turun tangan. Anehnya lagi, entah sihir apa yang merasukiku, aku masih memaafkan dia dan bersama dia.

Terima kasih sebesar-besarnya untuk Dekan Fakultas yang begitu mempercayaiku dan orangtuaku. Sampai aku dibantu untuk bisa wisuda. beliau menyarankanku untuk berhenti berhubungan dengan orang itu. Ya, dari situ aku sadar.

Aku harus kerja sendiri, menghasilkan uang dan melunasi hutang-hutang yang timbul karena dia. Pada akhirnya aku memutuskan untuk bekerja di luar kota dengan UMR tinggi supaya hutang itu bisa lunas. Dan saat itu aku yang mengira keluarganya begitu baik pun salah. Keluarganya baik hanya untuk melindungi nama anaknya. Hanya peduli pada anaknya yang penipu itu. Titik dimana aku sadar bahwa keluarganya sama saja seperti dia adalah saat aku membuka semua masalah dia termasuk masalah penipuan kampus.

"Om, ternyata dia itu seperti ini. Aku tidak mau menutupi atau melindungi lagi karena sudah menyangkut namaku," kataku.

"Berarti kamu sama saja kaya perempuan lain. Menganggap dia berengsek. Apa bedanya? Aku pikir kamu orangnya tidak begitu," Balas papahnya.

Lalu aku tersentak. Sudah baik aku membantu dia, melindungi namanya dengan memperburuk namaku. Saat dia semakin memperburuk namaku hingga wisudaku dipersulit, apa iya masih harus membela anaknya dan mengorbankan orang lain?

Ternyata memang sekeluarga sama saja hanya peduli kepentingan sendiri walau harus mengorbankan orang lain

 "Oh, ternyata seperti itu yang sifat asli keluarganya,".

Ternyata memang orang jahat itu selalu terlihat baik ya.

Dua tahun aku dengan kenaifanku selalu percaya dan menerima dia. Dua tahun berikutnya di tahun 2022 aku mulai tersadar, mencoba keluar dari hubungan yang buruk ini. Bekerja dan memenuhi kebutuhan serta menyelesaikan masalah-masalah yang timbul selama dua tahun itu. Aku berjuang untuk bangkit, padahal saat itu aku sudah benar-benar hancur sampai berfikir untuk diam saja hingga mati.

Mentalku di tahun-tahun bersama dia begitu berantakan. Dimanipulasi sedemikian rupa, menghadapi hal-hal buruk, dijauhi banyak orang karena dia, menjadi tidak cantik dan lesu, sampai dititik aku sadar dan tidak boleh menyerah begitu saja. Aku terbiasa kuat dan harus kuat. Aku bangkit kembali. Memulai bekerja dan tidak menuruti apa kata dia lagi. Walaupun masih selalu diikuti. Lagi-lagi sampai mohon-mohon dipinggir jalan. Dan selama dua tahun setelah aku sadar, aku bekerja berusaha memperbaiki namaku. Masih tetap bersama dia, tapi tidak senaif dulu. Kali ini aku lebih tegas. Aku fokus ke diri sendiri. Kalau dia mau sama aku ya berubahlah.

"Aku janji, aku berubah. Aku cari kerja yang pasti. Aku tidak selingkuh, tidak main judi, tidak seperti dulu," Janjinya.

Aku tunggu selama dua tahun tapi tidak berubah, Sifatnya sama masih suka jalan dengan perempuan-perempuan naif. Aku tahu dia masih berjudi online, masih menipu sana sini, masih pinjam sana sini. Tapi uangnya digunakan untuk jalan-jalan, makan enak, ke Bali, beli mobil dan iphone. Sampai titik aku memaksanya berkerja di perusahaan yang bonafit. Akhirnya dia bisa bekerja dan ditempatkan dijarak yang jauh dariku. Aku senang pada akhirnya dia memiliki pekerjaan yang jelas. Tapi dari situ aku tahu ternyata dia selalu membutuhkan seseorang untuk "ditipu". Aku memergoki dia berselingkuh lagi-lagi dengan perempuan berusia 22-23 tahun. Diajak mengontrak bersama. Perempuan ini tahu saat itu masih ada hubungan dengan aku, tapi entah diberi mantra apa sampai si perempuan ini luluh. Tapi, perempuan inilah salah satu penyelamatku.

Sudah memutuskan hubungan dengan dia, tapi dia masih sering datang ke kota tempatku bekerja. Agar dia tidak menggangguku lagi di perantauan, aku memutuskan untuk resign. Ya, hutang-hutang sudah selesai sejak tahun lalu, KPR rumah juga suda ACC, dan aku beranikah diri untuk resign agar tidak terus didatangi oleh dia. Sayang sekali rasanya harus resign, tapi demi kebaikanku, aku harus lakukan. Kembali ke orangtua lebih aman.

Dia masih sering menghubungiku. Awalnya aku hampir luluh, tapi sekali lagi Tuhan menyelamatkanku lewat teman kantornya yang tiba-tiba menemuiku dan menceritakan tentang dia di tempat kerjanya. Dia ternyata berhubungan dengan teman kantornya si perempuan itu, dia berkata sok tinggi, dia membohongi banyak orang. Masih sama saja sifatnya. Dia juga bilang ke teman-teman kantornya kalau aku pernah ambil uang dia dan orangtuaku pinjam berjuta-juta dari dia. Dia bilang juga sedang melunasi KPR rumahku dan dia. Kenyataannya, orang tuaku sudah membenci dia sejak kejadian kampus, hutang-hutangnya dia aku yang melunasi, KPR rumah itu atas namaku dibantu orangtua karena memang untuk keluarga. Dari situ aku benar-benar muak dan tidak mau lagi berurusan dengan dia. Aku merelakan HPku yang masih ada di dia, merelakan hutang-hutangnya dia yang pada sudah aku lunasin.

Setelah aku mendapat fakta-fakta mengejutkan tentang dia, aku sudah tutup apapun tentang dia.

Untung saja aku sudah lepas dari dia. Aku pernah bilang, "Aku bakal bisa lepas sama dia kalau dia menemukan gantiku," dan benar kejadian. Dia sudah menemukan seseorang lain untuk dibodohi. Kuharap sampai menikah saja sama perempuan itu, agar tidak ada korban lain.

Sebenarnya dia masih menghubungiku, melihat storyku dan semua sosial mediaku, tapi tidak aku pedulikan. Posisi dia juga sudah bertunangan dengan selingkuhannya. Mau bilang ke tunangannya, tapi tidak tega. Biarkan mereka menikah saja agar hidupku lebih tenang.

Pembelajaran untukku. Walau harus jatuh sejatuh-jatuhnya. Yang sudah berlalu biarkan saja. Mau menyesal karena masa mudaku yang sia-sia, tapi dari situ aku banyak belajar, mentalku dikuatkan, pandanganku berubah. Jadi lebih fokus ke diri sendiri saja dulu. Walau berat sekali karena namaku terlanjur buruk, usiaku bertambah, memulai semua serasa sukar tapi aku tidak mau kalah. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Yang dibutuhkan bukan itu

 Aku kembali dengan pikiran sedikit lega. Ada kecewa sedikit. Tapi aku pikir ini yang terbaik. Aku perempuan berusia 27 tahun. Sok-sok an ingin berkembang dengan banyak aktivitas seolah-olah umurku masih 20 tahun. Aku begitu karena merasa telah lepas dari hubungan yang selama ini mengikatku dan merusakku. Jadi seolah-olah aku ingin kembali seperti dulu. Aku mencoba banyak kegiatan diluar pekerjaan pokokku. Ikut daftar radio anak muda, ikut daftar freelance, news anchor, mencoba jadi content creator. Hasilnya? ternyata tidak bisa semaksimal dulu. Apalagi shiftku yang menyita jam tidur malam. Setelah aku jalani, badanku tidak sanggup dan tidak semuda dulu. Alhasil, tidak ada yang maksimal. AKu terlalu lelah untuk training di radio, terlalu capek untuk buat konten karena harus fokus ke pekerjaan utamaku yang 9 jam itu. Mencoba ikhlas mungkin memang bukan duniaku lagi disitu. Akhirnya aku tidak lolos menjadi penyiar anak muda. Gayaku yang lembut dan formal memang tidak bisa kalau disur...

Seklumit Hidup yang Belum Terceritakan

"hhh hidup.." Lama juga tak banyak bersua di blog yang gaje ini. Lama tak menyuarakan hidup di sini. Aku kembali. Seperti beberapa tahun lalu, mau menuliskan sekelumit hidupku. Banyak yang terlewatkan, dan akan ku ceritakan. Tahun 2016, sudah kuceritakan, kan? Aku bertemu dan menjalin hubungan dengan seseorang. Tahun 2018 aku harus berpisah, mematahkan hatiku sendiri. Tahun 2018 ibarat tahun perjuangan juga bagiku. Dari sisi keluarga, ekonomi, cinta, dan banyak hal. Tunggu, sepertinya memang hidupku banyak berjuangnya setelah ku baca-baca kembali cerita hidup lamaku, Hidup itu memang perjuangan ya haha.. Baiklah, dimulai di tahun 2018. Berarti saat ini umurku tepat 20 tahun, terjadi proses pendewasaan. Disitulah juga, orangtuaku terlilit hutang karena ditipu. Tidak punya rumah, semua lenyap, pindah-pindah. Aku pun sering juga kena marah dari banyak orang karena hutang orangtuaku. Diikutin sama orang yang tak dikenal. Harus jaga adik. Harus pura-pura berani dan tegar. Lagipula...